Sampai Jumpa Kembali

Kedatangan saudara dari negeri tirai bambu, kami putuskan untuk membawa mereka jalan ke Lembang karena yang paling dekat dari Jakarta. Tujuan utama kawah putih dan tangkuban perahu yang merupakan primadona dan ciri khas wisata alam Bandung. Agak khawatir juga bakalan macet karena saat itu adalah long weekend. Plannya hari pertama ke kawah putih kemudian balik menginap ke lembang. Hari kedua ke Tangkuban Perahu dan sekitaran Lembang. Tapi semuanya hanyalah plan, namun tetap harus disyukuri. Ok, jadi di hari pertama itu kami hanya di penginapan daerah Dago Giri karena jalanan dari Lembang ke Dago Giri yang hanya 1 jalur dan super duper macet. Walaupun di penginapan cukup nyaman dan punya view yang bagus tapi tetep deh ga mau nginap daerah sana lagi.. Macetnya itu dari siang sampe malam guyss.. Jadi, makan malamnya kami berjalan ke rumah makan dekat penginapan.

Hari kedua bersiap-siap ke Tangkuban Perahu, karena sesuai GPS arah kawah putih masih macet. Tiket masuk ke Tangkuban untuk wisatawan asing adalah 10x lipat dari tiket lokal dan karena di hari libur tiketnya menjadi IDR 300.000. Sementara tiket kawah putih untuk wisatawan asing adalah  IDR 50.000, tidak sampai 2x lipat dari tiket lokal. Jadi, kami melewatkan Tangkuban dan meluncur ke Farmhouse. Tiket masuk bisa ditukar dengan susu murni/ susu kemasan/ makan dengan biaya tambahan sesuai syarat dam ketentuan restoran. Makan siang di Lembang tidak pernah kami lewatkan untuk makan di gubug makan Mang Engking, favoritku adalah gurame cobek dan karedok. Di pondok makan, kita bisa bersantai, memberi makan ikan serta tersedia kolam terapi kaki. Perut kenyang hati seneng, menurutku jika makan di gubug Mang Engking. Makan malamnya enaknya noodle soup, anget2 sambil ngobrol-ngobrol. Karena esok hari terakhir di Lembang, malam itu kami mengobrol cukup lama.

Hari ketiga rencananya agar tidak kemalaman pulang ke Jakarta, maka diputuskan hanya di Lembang. Setelah beberes dan check out, kami menuju vihara Lembang. Di lingkungan vihara pribadiku merasakan ketentraman. Ketika bersujud, ada perasaan yang sudah kunantikan, perasaan damai dan rendah hati. Selain itu, ketika melihat para bhikkhu sedang bermeditasi, suasana tenang dan damai sejati yang kurasakan. Simple saja, ketika bisa berdiam diri dan menyadari yang terjadi saat ini, yang terjadi pada tubuh kita. Sejenak jauh dari hiruk pikuk ibukota.

Setelahnya kami menuju pasar Apung untuk menikmati jajanan dan makan siang. Kiranya pasar Apung seperti yang di Sentul, hanya menjual makanan yang seperti di Mall dan tidak ada yang jualan di atas perahu. Tapi yang di Lembang berbeda, makanan dijual di atas perahu dan makanannya khas Indonesia dari empek-empek, sate, rujak, lontong, soto, tongseng, tempe mendoan, es cendol dan masih banyak lagi. Tiket masuk dapat ditukar dengan minuman. Minumannya cukup bervariasi dari milo, kopi, lemon tea, orange juice, dsb. Favoritku adalah tongseng dan lontong sayur. Pembeliannya menggunakan koin ya dan kalau masih ada sisa tidak bisa ditukar kembali, jadi perkirakan dulu mau makan apa untuk menukar koin. Selain kulineran, di sana banyak taman dan wahana permainan. Dan juga banyak spot untuk foto. Kalau lagi tidak banyak pengunjung, rekomen banget tempat ini untuk jalan santai dan kulineran ringan. Dan esoknya, saudara sudah harus terbang ke Bali. Sampai jumpa kembali yahh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s