Mengejar Bayangan

The Errol Way

Si hitam itu selalu mengejarku. Kuberlari semakin cepat, semakin cepat juga ia menyusulku. Ketika di depan dihadang jalan bercabang, kupilih lorong gelap itu. Berharap bisa sembunyi dan beristirahat sejenak. Dan benar, tiba-tiba ia hilang ketika saya masuk lorong gelap itu. Perlahan tak terdengar derap kakinya lagi. Apakah ia sama denganku yang takut akan lorong gelap?

Pernahkah ku kejar impianku layaknya bayangan yang selalu mengejarku? Rasanya sudah lama kuterbenam di tempat ini yang begitu nyaman. Hasrat itu tidak sekuat ketika kududuk di bangku perpustakaan kampus. Begitu banyak impian dan keinginan yang bertandang di to-do list. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Namun kaki ini masih berdiri di tempat.

Kutermenung cukup lama dan rasanya harus kusudahi istirahat ini. Kucoba bangun namun beberapa kali kuharus duduk kembali sebelum bisa berdiri dengan mantap. Otot ini sudah mulai kaku karena kurangnya aliran darah ketika istirahat panjang tadi. Kulihat ke belakang apakah sosok…

View original post 99 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s