Hidup Bagaikan Air

Reblog post from theerrolway.wordpress.com

The Errol Way

“Bagaikan air hujan yang jatuh ke bumi. Ia akan bangun dalam wujud uap membentuk titik-titik air di awan.”

Jatuh dan bangun lagi. Adik bayi beberapa kali mendaratkan pantatnya kembali ke landasan kasurnya. Kakinya begitu mungil, pendek dan belum bertenaga. Pelan-pelan dia mencoba menggapai pegangan dan jatuh lagi. Sesekali dia merengek manja, lalu dicobanya kembali. Mungkin merangkak merupakan usaha pertama yang bisa dia perjuangkan. Sampai akhirnya dia bisa menggapai mainannya. Dia menjadi ahli untuk memporakporandakan kamarnya dengan mainannya.

Beranjak dewasa dia mulai belajar banyak hal. Beberapa kali dia jatuh. Pertama kalinya dia belajar naik sepeda, banyak stiker lucu yang bertandang di lututnya. Jatuh tidak membuatnya berhenti belajar. Semakin sering dia jatuh, semakin giat dia, semakin meluap tawanya diselingi rintihan perihnya luka di lutut. Lalu dengan bangganya dia membunyikan lonceng sepedanya, melambaikan tangan ke ibunya dan mengendarai sepedanya menuruni jalanan turunan yang membawanya seakan melayang.

Dari kecil, setiap manusia…

View original post 253 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s